Prabowo Subianto (1998)

Jejak Rekam Prabowo Subianto (1998)

Prabowo SubiantoPrabowo Subianto

Artikel ini dimaksud untuk Mengenang Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, di share dari:

Komunitas Pendukung Prabowo Subianto – 20 Februari 2013

dengan ditambah foto-foto dan video agar lebih jelas dan lebih menarik untuk dibaca.

PS lahir di Jakarta 17 Oktober 1951. Beliau adlh mantan Danjen Kopasus, Pengusaha sukses, Politisi dan calon presiden 2014. PS adlh putera dr begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Beliau jg cucu dr Raden Mas Margono Djojohadikusumo yg mpk anggt BPUPKI dan juga mpk pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI). Dari silsilahnya tampak bahwa PS memiliki “darah biru” elit pemimpin Indonesia bahkan jauh seblm republik ini lahir. PS menikahi Titiek, puteri Presiden Soeharto, keputusan yg tampak prospektif saat itu nmun mjd blunder dlm hdpnya dikemudian hari. Dg latar belakang keluarga intelektual, PS mewarisi kecerdasan ayahnya, beliau dikenal sgt cerdas di sekolah maupun di AKABRI. Beliau adlh alumnus AKABRI (1974) namun tdk byk yg tahu bahwa selulus SMA PS juga diterima di Harvard University. Karirnya dibidang militer terbilang sgt cemerlang dan membanggakan. Karir militer PS trmsk yg tercpt dlm sejarah ABRI. PS bahkan sempat disebut sbg “The Brightest Star”. Dan dialah jendral termuda yg meraih 3 bintang pd usia 46 thn. Sbg sesama orang militer PS bs dianggap sbg “antitesa” dr SBY, mgk krn karir beliau yg byk diisi dg penugasan di satuan tempur. Meski sama2 mpk “The Rising Star” di tubuh ABRI saat itu, SBY lebih dikenal sbg perwira intelektualnya ABRI. Brbeda dg SBY yg cenderung analitis dan berhati2 dlm mengambil keputusan, sbg perwira lapangan PS cenderung cepat “Take action”. Saat keputusan sudah dibuat PS akan menjalankannya dg penuh “determinasi”, beliau siap menanggung segala konsekuensinya.

 

Penculikan AktivisPenculikan Aktivis

Salah satu contohnya adlh perihal peristiwa penculikan aktivis yg tlh mencoreng nama baik & mjd penyebab kehancuran karir militernya. DKP yg menyelidiki kasus ini tdk prnah mngungkapkan hsl pemeriksaannya kpd publik. Tdk juga kpd PS yg notabene mjd tertuduhnya. Tampaknya Wiranto sengaja mengambil manfaat agar “prasangka publik” menghukum PS lbh berat drpd dosanya. Meski PS berikeras mengatakan tak pernah perintahkan, namun beliau mengambil alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya”, begitu kata beliau saat itu. Sikap yg hrs dibyr mahal dg hancurnya karir militer yg gilang gemilang, namun jg menunjukkan kualitas kepemimpinan PS.

Jika PS bnr bersalah, mengapa justru korban2 penculikan spt Pius L Lanang & Desmond J Mahesa justru mjd pengurus Partai Gerindra?

Meski begitu, kualitas kepemimpinan PS justru sdh teruji di saat2 paling kritis yg pernah dialami negeri ini. Bagi mereka yg lelah dg kepemimpinan yg lemah, lama mengambil keputusan, selalu terkesan ragu2 tampaknya PS adlh jawabannya. Bagi mereka yg muak dg pemimpin yg sibuk selamatkan diri sendiri saat ada masalah mk PS adlh pilihan yg patut dipertimbangkan. Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, PS memilih utk ambil alih tanggung jawab & menanggung sendiri resikonya. Seorang kapten kapal yg baik bukanlah yg pertama selamatkan diri saat kapal tenggelam, tp justru yg terakhir. Sayang, karir militer PS yg gilang gemilang itu berakhir dg cara yg kurang mengenakkan, bahkan bisa dikatakan memilukan. PS bisa dikatakan pihak yg dikalahkan dlm proses perebutan kekuasaan dan pengaruh di tubuh militer pd masa2 kritis thn 1998.

Berbicara ttg PS kita tdk bisa lepas dr peristiwa kelam Mei 1998 yg mencoreng nama bangsa Indonesia selamanya itu. Dan sebagai pihak yg kalah PS mjd “kambing hitam” dr semua kejadian tsb. Ini tentu sj berpotensi mjd pengganjal pencapresannya. Stigma sbg “penjahat kemanusiaan” pasti akan dimanfaatkan sbg senjata lawan2 politiknya utk menjatuhkan PS. Jika mmg benar PS adlh tokoh yg bertanggung jwb thd peristiwa itu mk dia sdh menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan PS yg karir gemilangnya didunia militer yg bgitu dicintainya itu hrs brhenti dg sejuta rasa malu dan aib.

Lalu bgm jika semua itu tdk benar?

Layakkah PS tersandera oleh prasangka tanpa bukti?

Lantas layak pulakah bangsa Indonesia kehilangan kesempatan utk dipimpin oleh putera terabaiknya, hny krn asumsi yg belaka?

Utk dpt menilai PS secara lbh obyektif, mk kami akan bahas kembali secara detail peristiwa yg tjd di thn 1998 itu. Kami akan jelaskan apa yg sesungguhnya terjadi pd peristiwa mei 1998 dari sudut pandang yg berbeda dr pemahaman umum selama ini.

 

PrabowoPrabowo WirantoWiranto

Jauh seblm peristiwa mei 98, proses penghancuran nama baik PS sdh tjd. Semua berawal dr rivalitas antara Prabowo & Wiranto. Ketdk harmonisan PS dan Wiranto mmg sdh berlangsung sejak lama. Mgkn krn background keduanya yg jauh berbeda. PS yg kosmopolitan cenderung memiliki pola pikir yg terbuka sementara Wiranto dg latar belakang Jawa yg sgt kental lbh tertutup. Namun PS yg terbiasa dg persaingan terbuka sejak kanak2 menganggap rivalitas semacam itu sbg hal biasa & tdk dijadikan personal. Berbeda dg Wiranto yg berlatar belakang sgt ‘Jawa Tradisional’ itu, dia lbh mirip dg Soeharto dlm menyikapi suatu rivalitas. Lihat saja nasib yg menimpa pesaing2 Soeharto yg mengganggu karir militernya di masa lalu, jika tdk mati, membusuk di penjara. Indikasi ketidaksukaan Wiranto terlihat dg absennya beliau sbg Pangab dlm acara serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono kpd PS. Begitu jg saat pemberhentian secara hormat PS sbg perwira militer, beliau mencopot tanda2 pangkat PS dg satu tangan saja. Proses berakhir secara paksanya karir militer PS mmg tdk bisa dilepaskan dr rivalitas perwira muda dan perwira tua. PS sbg representasi perwira muda tentu saja mjd sasaran tembak utama saat itu. Posisi PS saat itu benar2 terjepit, di satu sisi dia adlh menantu penguasa yg sdg mjd sasaran sentimen negatif rakyat. Di sisi lain akibat manuver Wiranto cs, Soeharto yg msh punya pengaruh justru membencinya sampai ke ubun2. Sampai2 kpd penggantinya Habibie, beliau menyampaikan pesan khusus utk “mengamankan” PS.

Bagaimana hal tsb bisa tjd?

Semua tdk terlepas dr peristiwa Mei yg mengerikan itu. Peristiwa yg hingga kini msh menghantui republik ini.

Sesungguhnya ada 3 tuduhan utama yg diarahkan kpd PS ;

Penculikan aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti dan dalang kerusuhan Mei 1998, tdk satupun tuduhan tsb yg terbukti.

Seandainya PS bersalah bukankah Pangab saat itu Wiranto?

Bukankah sbg Panglima beliau yg seharusnya paling bertanggung jawab?

Mengapa hingga saat ini PS tdk pernah diberitahu ttg hsl penyelidikan DKP shg tdk bisa membela diri?

Mengenai penembakan mahasiswa Trisakti Wiranto jg terkesan sengaja ‘buying time’ dg tdk mengusut kasus ini secara cepat

Akibatnya tuduhan kembali ke PS yg jadi bulan2an opini publik, dicurigai sbg org dibalik penembakan itu. Meski banyak sekali keanehan thd tuduhan ini namun fitnah sdh mencapai sasaran, dan sekali lagi PS terlanjur mjd pesakitannya. Tuduhan mengarahkan Prabowo di balik penembakan, dg konspirasi anggota kopasus memakai seragam Polri sebagai pelaku penembakan sniper. Teori konspirasi ini tak pernah terbukti, krn peluru snipper diatas 7 mm & proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara random, kalau snipper akan memilih misalnya pemimpin demo atau target pilihan.

Lima hr setlh insiden Trisakti, PS dtg ke rmh Herry Hartanto. Di bwh Al Qur’an dia bersumpah.

Di dpn Syahrir Mulyo Utomo orang tua korban; “demi Allah saya tidak pernah memerintahkan pembantaian mahasiswa”.

Perihal keterlibatan PS atas penembakan mahasiswa Trisakti, tgl 14 tjd pertemuan di Makostrad atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara PS & tokoh masyarakat al; Buyung Nasution, Setiawan Djodi, fahmi Idris, Bambang Widjoyanto (skrg pimp KPK). Dlm prtemuan itu PS ditanya ttg keterlibatannya, dia jwb

“Demi Allah sy tdk terlibat, sy di set-up”. Mnurut Buyung terlihat jujur.

Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketidak terlibatan PS atas peristiwa penembakan mahasiswa tsb. Dan Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kesulitan memaksa Kapolri Dibyo Widodo utk serahkan anggotanya yg dicurigai terlibat. Disinilah peran Wiranto terlihat, 17 hari setlh insiden itu berlalu baru Wiranto memanggil Dibyo perintahkan utk serahkan anggota. Itupun anggota diserahkan ke Polda bukan ke POM ABRI, padahal Polri saat itu msh mjd bagian ABRI dan Pangabnya adlh Wiranto. Sementara senjata sbg barang bukti baru diserahkan tgl 19 Juni 98, hampir satu bulan sejak peristiwa tjd. Thn 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia membuktikan bahwa peluru berasal dr anggota Polri unit gegana.

Siapa sesungguhnya dibalik pristiwa itu?

Siapa yg beri perintah?

Jelas bkn PS yg sbg Pangkostrad tdk pny jalur komando ke Polri.

Bagaimana dg tuduhan PS sbg otak dibalik kerusuhan Mei 98?

Benarkah dia yg bertanggung jawab atas peristiwa tsb?

Atau kembali lagi beliau dikorbankan akibat proses perebutan kekuasaan terselubung diantara para elit militer saat itu?

Apakah benar kerusuhan tsb tjd krn spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan krn pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’?

Mari kt kembali ke jaman yg tdk mengenakkan itu. Kadang utk mencari kebenaran sejarah kt butuh ‘mesin waktu’. Kita juga membutuhkan testimoni para pelakunya yg saat ini msh hidup bahkan sdg berkuasa. Sedikit dr kita yg mengetahui apa peran SBY dlm proses pergantian kekuasaan saat itu, pdhal beliau jg ckp berperan. Nanti akan kt bahas.

Kembali ke bulan Mei 98, sebagaimana mjd kepercayaan umum bahwa penembakan mahasiswa Trisakti mengakibatkan tjdnya kerusuhan besar2an.

Benarkahkah demikian?

Bukti2 menunjukkan bahwa kerusuhan mei 98 itu bukanlah spontanitas kemarahan warga akibat peristiwa Trisakti.

Adakah rekayasa pihak tertentu atau setidaknya pembiaran shg peristiwa itu bisa tjd?

Mari kita lihat secara jernih bukti2 yg ada.

Satu peristiwa yg bisa dijadikan kunci keterlibatan Wiranto pd peristiwa tsb adlh kepergiannya ke Malang saat ibukota sdg genting2nya. Sebab Wiranto sdh tahu akan ada kerusuhan di Ibukota tapi tetap bersikukuh utk pergi ke Malang. Acara di Malang adlh serah terima PPRC dr Divisi I ke Divisi II, Wiranto mjd Inspektur upacaranya. Sebenarnya itu adlh acara rutin yg bisa diwakilkan. Bayangkan, utk serah terima Pangkostrad sj dia bisa berhalangan hadir.

Bgm mgkn dlm kondisi Ibukota genting dia sbg pemegang kunci komando lbh mmilih jd Irup acara seremonial spt itu?

Sgt tdk bs diterima akal sehat!

Apalagi mengingat tgl 13 Mei mlm Wiranto memimpin rapat Garnisun Jkt utk mnanyakan situasi terakhir.

Lbh mencurigakan lg bhw sesungguhnya Kasum TNI Fahrur Razi saat itu sdh ditunjuk Pangkostrad PS mjd Irup di malang. Tetapi sekonyong2 diambil alih oleh Wiranto.

Suatu kbtlan atau kesengajaan?

 

Insiden TrisaktiInsiden Trisakti

Mungkinkah Wiranto sbg Pangab tdk tahu menahu kondisi Jkt?

Dlm kondisi Ibukota tjd kerusuhan Wiranto malah pergi ke Malang dg mengajak komandan2 spt Danjen kopasus, komandan Marinir, dll.

Lbh mencurigakan lg sesungguhnya PS sdh brulang kali mnghubungi Wiranto utk batalkan kepergiannya, Wiranto jwb “Show must goon”. Ini mirip dg Soeharto tahu akan gerakan 30 september namun sengaja tdk melakukan tindakan apapun utk mencegahnya. Seblmnya, saat situasi makin mengarah rusuh 12 Mei 1998 Panglima TNI Wiranto tdk memerintahkan pasukan utk berada di Jkt. Atas permintaan Pangdam Jaya yg mendpt perintah dr Mabes ABRI, Pangkostrad PS kemudian membantu pengamanan Ibukota. Pangkostrad PS kemudian membantu Pangdam Jaya dg mendtgkan pasukan dr Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang utk bantu Kodam. Tp sekali lagi Wiranto tdk mau memberi bantuan pesawat hercules shg PS mencarter sendiri pesawat garuda dan mandala. Sehrsnya jk negara dlm keadaan genting spt itu Panglima wajib mengambil alih komando dan secara fisik wajib berada di lokasi. Tp yg tjd justru tdk terlihat sedikitpun itikad baik Wiranto utk mencegah terjdnya chaos yg menelan korban hingga ribuan orang tsb. Anehnya justru belakangan kubu Wiranto yg melemparkan kesalahan kpd PS yg dianggap mengakibatkan kerusuhan itu.

Bukankah Wiranto sudah menggelar rapat Garnisun tgl 13 mei utk menanyakan situasi terakhir?

Apakah Zaki Anwar Makarim sbg ketua Badan Intelijen ABRI tdk pernah mengingatkan Wiranto akan ada kerusuhan?

Bukankah PS sendiri sudah mengingatkan Wiranto akan tjd kerusuhan dan mencegahnya pergi ke Malang?

Mengapa Wiranto tdk bergeming?

Lantas apa sebenarnya tujuan Wiranto membentuk pam swakarsa?

Pam swakarsa ini rencananya akan dipakai sebagai perlawanan kalangan sipil thd demo yg semakin menjadi2 saat itu. Namun belakangan dicurigai bahwa justru pam swakarsa inilah salah satu penyulut kerusuhan Mei tsb. Jauh seblm peristiwa mei tjd, mantan Kakostrad Kivlan Zein bersaksi bahwa dialah yg diperintahkan Wiranto utk membentuk Pam Swaraksa.

Mengapa Wiranto menolak permohonan bantuan Hercules PS shg dia hrs mencarter sendiri pswt Garuda dan Mandala?

Mengapa saat PS mengerahkan pasukan utk berusaha menghentikan penjarahan ‘sistematis’ toko2, Justru Panglima TNI melalui Kasum Fahrur Razi malah melarang pengerahan pasukan utk membantu Kodam Jaya?

Mengapa panser2 dan pasukan yg sdh siap saat itu tdk bisa bergerak krn menunggu perintah yg tak kunjung datang?

Keragu2ankah atau kesengajaan?

Yg jelas akibatnya ribuan nyawa melayang sia2, ratusan wanita diperkosa, aset2 pribadi dibumi hanguskan!

Bukti lain semakin mengarah kpd Wiranto sbg dalang sesungguhnya dr kerusuhan Mei 98 dr pengakuan mantan Ka Puspom ABRI Sjamsu Djalal. Melihat kondisi ibukota yg makin tdk terkendali, beliau menyarankan utk berlakukan jam malam, namun Wiranto tdk bergeming. Artinya ada lebih dari satu org yg mmberi peringatan kpd Wiranto saat itu, Jd keputusannya berangkat ke Malang adlh bagian dr ‘rencana’. Makin terkuak disini bhw PS yg justru berupaya mengamankan situasi malah dijadikan kambing hitam sbg pelaku kudeta.

Pertanyaan slanjutnya adlh, bnrkah kerusuhan mei itu murni spontanitas warga atau krn rekayasa dlm kaitan perebutan kekuasaan saat itu?

Mengenai pembentukan pam swakarsa, Kivlan Zein sdh memberi testimoni bahwa itu adlh bentukan Wiranto, dia yg ditugasi. Perintah pembentukan Pam Swakarsa diberikan oleh Wiranto, Dia panggil Kivlan Zein utk meminta dana dr Setiawan Djodi. Pertemuan ini diatur oleh Jimmly Asshidiqie, dlm prtemuan tsb Wiranto mngatakan ini perintah Habibie, Jimmly akbrab dg Habibie dlm ICMI. Kerusuhan yg tjd krn spontanitas biasanya meluas dg menjalar, tdk serempak dimulai di seluruh penjuru kota dlm wkt yg bersamaan. Satu2nya jawaban yg bs diterima akal sehat adlh bhw kerusuhan itu tjd ‘by design’ dimulai berdasarkan komando pihak2 tertentu.

Mengapa pd pagi hari tgl 14 Mei ada pasukan dari Solo diterbangkan ke Jakarta dan mendarat di Halim?

 

Kerusuhan 14 Mei 1998 di JakartaKerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta Kerusuhan 14 Mei 1998 di SoloKerusuhan 14 Mei 1998 di Solo



Disaat yg sama kerusuhan terjadi bersamaan antara Jakarta dan Solo, semua tjd pd pagi hari di wkt yg persis bersamaan, tdk ada jeda. Seolah2 mengisyaratkan bhw kerusuhan di kedua kota ini sdh direncanakan matang seblmnya dan dibwah komando yg sama. Disaat massa mulai menjarah di Jkt disaat yg sama kejadian serupa tjd di Solo, modusnya sama persis!

Jika kerusuhan itu spontanitas, mengapa dimulai secara serempak di berbagai penjuru Jkt sekaligus Solo?

Kerusuhan 14 Mei 1998 Yogya PlazaKerusuhan 14 Mei 1998 Yogya Plaza Klender

Di salah satu pertokoan, ada kesaksian seorg ibu yg mencari anaknya yg ikut msk ke Jogja Plaza krn disuruh seseorg. Tp dilantai 2 ditampar & disuruh keluar dan akhirnya keluar seblm pintu ditutup dr luar? Kt taju akhirnya Jogja Plaza dibakar.

Siapakah mrk itu?

Mungkinkah mahasiswa atau penduduk urban sengaja memasukkan massa ke dlm gedung lalu membakarnya dr luar?

Atau ada pihak tertentu yg sengaja memobilisasi massa spy tjd kondisi chaos yg memungkinkan pihak2 tertentu ambil peranan?

Sebagaimana yg kt ketahui selanjutnya, kondisi chaos itu sendiri akhirnya mempercepat proses jatuhnya Soeharto dr tampuk kekuasaan.

Lalu siapakah yg diuntungkan dr jatuhnya Soeharto?

Adakah Wiranto cs atau PS ?

Yg jelas sesaat setlh lengsernya Soeharto, Wiranto sbg Pangab dg mudahnya menghancurkan karir militer PS.

Dg tdk mengurangi rasa hormat kpd aktivis mahasiswa 98’ kami hrs sampaikan bhw sesungguhnya kejatuhan soeharto bkn krn demo. Tetapi lbh karena pengkhianatan para elit, baik sipil maupun militer yg mana mrk sesungguhnya bagian dr kroni Soeharto sendiri. Peristiwa jatuhnya Soeharto dr kekuasaanya itu sendiri lebih tepat dikatakan hasil dr sebuah kudeta halus (soft coup), yang memanfaatkam demonstrasi mahasiswa yg merebak dimana2 sbg ‘trigger’nya.

Rupanya dlm suasana genting jatuhnya kekuasan Soeharto itu diwarnai pula olh rivalitas yg muncul ke prmukaan diantara para perwira ABRI. Akibat lemahnya kepemimpinan Wiranto sbg Pangab ditambah suasana yg tdk menentu, msg2 perwira berusaha cari manfaat atas situasi tsb. Para perwira berusaha ‘berinvestasi’ pd masa depan msg2, setdknya mengamankan posisi mrk masing2. Pd saat itu terlht jelas di tubuh ABRI sndiri tdk solid dibwh satu komando, masing2 pny agenda sendiri2 dan saling curiga satu sama lain. Salah satu contohnya adalah adanya siaran pers dr puspen ABRI menjelang berakhirnya kekuasaan Soeharto. Siaran pers yg walau dibantah langsung oleh Wiranto namun turut mempercepat proses lengsernya Soeharto. Dimana salah satu isi dr rilis tsb adlh dukungan thd sikap PBNU yg mendukung Presiden Soeharto lengser keprabon. Sebenarnya itu bkn mpk rilis resmi ABRI krn tdk pakai kop surat dan tdk ditanda tangani.

 

SBY-Prabowo-WirantoSBY-Prabowo-Wiranto

Menurut Makodongan, siaran pers dukungan thd sikap PBNU itu dibuat oleh Mardianto dan Kasospol saat itu, SBY !

Meski tengah malam itu jg Wiranto membangunkan seluruh perwira utk menarik rilis itu dr seluruh media massa agar tdk diterbitkan. Nmn sdh terlanjur beredar & Soeharto yg tahu ttg ini semakin khilangan perspektif thd kondisi lapangan, terutama mengenai dukungan ABRI. Kejadian ini semakin memperburuk hubungan PS dan Wiranto krn dia menganggap Prabowolah yg mengadukan ini ke Presiden. Tgl 18 Mei Harmoko yg selalu menjilat Soeharto akhirnya mjd Brutus dg meminta beliau secara arif dan bijaksana utk mundur. Sikap Harmoko ini cukup mengejutkan mengingat keberadaannya sbg Ketua DPR/MPR adlh semata2 utk mengamankan kekuasaan Soeharto. Sebelumnya dia selalu langganan dipilih sbg mentri oleh Soeharto, bs dikatakan dia memperoleh segala2nya krn Soeharto. Namun krn desakan mahasiswa & tokoh masyarakat akhirnya dia memilih utk menyelamatkan diri sendiri. Namun begitu prnyataan pimpinan DPR/MPR itu dsambut gegap gempita oleh mahasiswa yg menduduki gedung DPR & masyarakat seluruh Indonesia, tp kegembiraan itu tdk berlangsung lama krn pkl 23.00 Wiranto menyampaikan bhw ABRI menolak pernyataan Harmoko itu.

Melihat situasi yg semakin tdk menguntungkan kekuasaannya sebenarnya Pak harto sdh berniat mundur dr jabatannya. Namun dia ingin memastikan pasca mundurnya dia sbg Presiden tdk ada chaos yg membuka peluang bagi militer utk berkuasa.

Gus Dur & Amien RaisGus Dur & Amien Rais

Tgl 19 Mei dibuatlah pertemuan dg bebrp tokoh msyarakat spt Gus Dur, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib, dll minus Amien Rais. Dlm pertemuan tsb Soeharto menyatakan akan membentuk Kabinet Reformasi yg akan menyiapkan pemilu. Sementara itu menjelang rencana Amien Rais yg akan mengumpulkan massa di Monas tgl 19 Mei, Wiranto adakan rapat di Mabes. Dlm rapat yg dihadiri para perwira tinggi militer itu kembali muncul perbedaan antara PS dan Wiranto. Dlm rapat itu Wiranto mengatakan bhw perintah yg dibuat adlh mencegah masuknya pendemo dg segala cara (at all cost).

PS bertanya berulang2 apa mksd perintah itu?

Apakah akan digunakan peluru tajam?

Tdk dijwb dg jelas oleh Wiranto.

Kivlan-dan-PrabowoKivlan dan Prabowo

Kivlan Zein menggelar tank dan panser dg perintah “lindas saja mereka yg memaksa masuk Monas!”. Kivlan Zein meminta PS agar Amien Rais membatalkan rencana demo sejuta umat di Monas. “Dr pd sy dimusuhi umat Islam lbh baik saya tangkap Amien Rais” kata Kivlan. Akhirnya Amien Rais batalkan rencana demo di Monas.

BJ HabibieBJ Habibie

Saat menghadapi Habibie PS berkata,

“Pak, Bapak sepuh mgkn akan lengser siapkah anda menggantikannya?”

Selanjutnya PS meminta Habibie utk mempersiapkan diri. Disini terlihat bhw Prabowo merasa tdk pny masalah dg Habibie. Dan jk kita baca ulang berita2 media jauh seblmnya, juga tampak jelas hubungan kedua tokoh ini sangat akrab. Berulang kali PS menyampaikan kekagumannya pd Habibie, begitu juga sebaliknya.

PS yg berhasil meredakan situasi merasa akan dapat pujian, mk datanglah ke Cendana. Tapi lacur, disitu sdh ada kelompok Wiranto yg duduk bersama2 dg Soeharto dan putera-puterinya. Rupanya disitu Wiranto ‘mengadukan’ ttg manuver PS yg mengindikasikan dia runtang runtung dg Habibie dan para aktivis. Saat dia tiba, Mamiek lgsg menghardik PS dg kasar sambil mengacungkan telunjuk hny satu inci dr hidung muka PS Sambil berkata

“Kamu pengkhianat! Jgn injakkan kakimu di rmh saya lagi!”

PS keluar menunggu sambil bilang,“Saya butuh penjelasan”.

Titiek istrinya hny bisa menangis, lalu dia pulang.

Saat itu sesungguhnya PS sdh dikalahkan, kalah oleh lobby dan pendekatan Wiranto yg meyakinkan. Dalam kondisi gamang spt itu mmg Soeharto sgt rentan menerima informasi yg dipelintir. Hal yg sama akan terulang kembali pd Habibie. Kali ini Wiranto sendiri mengakui ada informasi yg salah ditangkap Habibie dr dirinya.

Sementara itu Habibie yg merasa terancam dg rencana pembentukan Kabinet Reformasi mengeluarkan kartu As-nya. Dia dan 14 mentri ekuin di bwh Ginandjar Kartasasmita menyampaikan keberatannya utk mjd bagian dr Kabinet Reformasi. Soeharto merasa benar2 terpukul atas kejadian terakhir ini krn merasa ditinggalkan. Apalagi diantara mrk ada yg dianggap sbg orang2 yg dia ‘selamatkan’. Malam itu Soeharto terlihat gugup & bimbang, suatu kejadian langka. Namun disaat2 penuh kekecewaan itu hadir sahabat2 sejati yg menunjukkan kesetiaannya.

Malam itu hadir di cendana para mantan wapres menyampaikan dukungannya; Umar Wirahadikusuma, Sudharmono, Try Sutrisno.

Pkl 23.00 Soeharto panggil PS , Saadilah Mursyid dan Wiranto. Beliau sampaikan bhw besok akan serahkan kekuasaan pd habibie. Esok paginya, Harmoko, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Ahmad, Ismail Hasan Metareum menemui Soeharto di ruang Jepara.

“Ada dokumen lain lg?”

“Tidak Pak”, jawab Harmoko.

“Baik kalian tunggu saja disini, saya akan laksanakan pasal 8 UUD 45”

 

Pak Harto 21-Mei-1998

Di Credential Room Soeharto bertemu Habibie tp dia melengos. Soeharto sangat sakit hati dg murid kesayangannya ini. Selesai menyampaikan pidato pengunduran dirinya, dia menyalami Habibie & kembali ke ruang Jepara. Kpd para pimpinan DPR/MPR itu dia berkata,

“Saya sdh bukan presiden lagi”.

Mbak Tutut sembab matanya krn menangis. Harmoko melongo.

Pagi itu adlh pertemuan terakhir Soeharto dan Habibie. Bahkan saat kritis menjelang ajalnyapun, Habibie dilarang menemui Soeharto. Hubungan Soeharto & Habibie adlh hubungan panjang dua manusia yg berhasil mjd pemimpin negeri ini. Soeharto sdh mengenal Habibie sejak habibie msh anak2. Bahkan saat ayah habibie meninggal, Soeharto-lah yg menyolatkannya. Soeharto-lah yg menutupkan mata ayah Habibie saat meninggal dunia. Bahkan dlm buku biografinya, Soeharto tdk segan2 menunjukkan kepercayaan & rasa sayangnya thd Habibie. Soeharto pula yg mengirim utusan utk menjemput Habibie di Jerman utk kembali ke Indonesia. Kt belajar dr sini. Bgm demi kedudukan hubungan umat manusia yg begitu dlm mampu dikorbankan

Pkl 23 malam PS dan Muhdi bertemu dg Habibie di kediamannya utk memberi dukungan pd Presiden baru. Namun keesokannya pd tgl 22 mei, selesai Shalat Jumat PS mendpt kabar mengejutkan, bagai petir di siang bolong. PS di Makostrad ditelp Mabes AD, diminta menanggalkan benderanya. Perintah itu tak lain artinya bhw jabatannya dicopot. PS ingat perkataan Habibie jauh seblmnya,

“Prabowo, kpn pun km ragu temui sy, jgn pikirkan protokoler!”

Mk PS menemui Habibie yg sdh mjd Presiden dan berkata:

“Ini penghinaan bagi keluarga sy dan keluarga mertua saya”.

Habibie menjelaskan kl dia mendptkan laporan dr Pangab bhw ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, kuningan dan istana. PS minta setdknya 3 bln di Kostrad. Habibie menolak,

“Tidak, sampai matahari terbenam anda harus menyerahkan semua pasukan!”

Dari sini kembali terlihat, untuk kedua kalinya PS dikalahkan oleh lobby & pendekatan Wiranto. Kelak, Wiranto sendiri mengakui bhw ada kemungkinan informasi yg diberikan diterima secara salah oleh Habibie. Namun kesalahpahaman apapun itu, PS sdh terlanjur mjd pihak yg dirugikan. Hancurnya karir militer yg begitu gilang gemilang. Kita tdk prnh tahu apkh baik Soeharto maupun Habibie sama2 salah mengartikan informasi yg disampaikan Wiranto. Atau mmg ada kesengajaan melakukan misinformasi thd PS mengingat persaingan internal ABRI saat itu.

Semoga menambah wawasan & jd pelajaran bagi kita semua

Semoga bisa ckp menyadarkan kita utk tdk terlalu mudah percaya pd pandangan umum & selalu bersikap kritis

Sumber : http://chirpstory.com/li/40245

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>